al-Mawaddah

Majalah Keluarga Muslim ( Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rohmah )

Bolehkah menikahi saudara beda bapak (seibu)?

Posted by al-Mawaddah pada 21 November, 2008

Diasuh oleh : Al- Ustadz Aunur Rofieq Ghufron

Bolehkah menikahi saudara beda bapak (seibu)?

Ustadz, apakah boleh menikah dua orang anak dari satu ibu tapi dari dua orang bapak? (Bapak yang pertama meninggal dan menyisakan satu anak, kemudian ibu menikah lagi dan mendapatkan satu anak juga).
Dedy Trisna, Palembang (08526792xxxx
)

Ada tiga masalah untuk menjawab soal di atas:

1. Jika yang dimaksud dua anak yaitu laki dan perempuan, keduanya ingin menikahinya padahal seibu walaupun beda bapak, maka hukumnya haram, karena ada dua hal:

Pertama: Menikahi saudarinya, karena mereka berdua statusnya saudara seibu walaupun beda ayah.

Kedua: Jika ibu menyusui keduanya, berarti menikahi saudara sepersusuan.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan…. (QS. an-Nisa’ [4]: 23)


2. Jika kedua anak itu perempuan, lalu ada seseorang yang berhajat untuk menikahi keduanya sekaligus, hukumnya pun haram, karena dia berdua saudara seibu dan juga saudara sepersusuan. Dalilnya:

… dan (diharamkan) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nisa’ [4]: 23)

Yang dimaksud kecuali yang telah terjadi pada masa lampau adalah pada zaman jahiliah, mereka tidak berdosa karena belum turun ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, dan Zaid bin Tsabit.
(Lihat Tafsir al-Qurthubi 17/94)
Jika terlanjur dinikahi, maka harus dicerai salah satunya.

3. Seperti pada no. 2, apabila salah satunya sudah dinikah, lalu dicerai atau meninggal dunia, maka boleh menikahi saudari lainnya. Wallohu A’lam.

Gadis salafiyah menanti pria salafi

Maaf sebelumnya Ustadz, saya gadis bercadar dan jarang keluar rumah, umur saya 28 th, mohon saran Ustadz, saya mau menikah, sudah beberapa kali ta’aruf tapi gagal, semuanya menyatakan ingin menikahi saya tapi saya tolak karena saya mengkawatirkan dien saya. Apa yang harus saya lakukan sekarang?
Akhwat, Kalbar (08525201xxxx)

Pertama: Kami ikut bersyukur kepada Alloh, karena ukhti walaupun belum menikah, tetapi sudah menerima nikmat yang cukup besar, dapat menerima ajaran as-salaf ash-sholih, bercadar, memelihara diri tidak sering keluar; itulah sifat wanita muslimah yang terpuji.

… maka wanita yang sholih, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka)…. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

Kedua: Jangan terburu-buru menerima pasangan hidup, karena berkeluarga bukan hanya satu hari atau dua hari. Apalagi seorang wanita jika terjadi perpecahan di dalam rumah tangga lebih parah daripada laki-laki. Karena itu, Rosululloh menganjurkan kita memilih pasangan hidup yang kuat agamanya dan kuat aqidahnya.

Abu Huroiroh berkata: Rosululloh bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya (dienul Islam) maka pilihlah wanita yang memiliki dien yang kuat, kamu akan bahagia.” (HR. Bukhori: 4700)
Mafhum mukholafahnya, wanita pun demikian, dia punya hak untuk menentukan pilihannya dengan mengutamakan yang baik aqidahnya.
Ketiga: Ukhti hendaknya beriman dengan taqdir, di samping harus berusaha, hendaknya bersabar menanti kekasih yang siap mendampingi yang diridhoi oleh Alloh.

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Alloh adalah benar…. (QS. Ghofir [40]: 77)

Dan di antara upaya yang hendaknya ukhti kerjakan, mohonlah kepada Alloh agar diberi jodoh yang beriman, beraqidah yang benar, dan bermanhaj salaf; terutama pada malam hari dengan menjalankan sholat tahajjud dan ibadah lainnya.

Dan mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. al-Baqoroh [2]: 45)

Suami sulit menerima kebenaran

Ustadz, saya ibu rumah tangga sedangkan suami pengusaha swasta. Saya sudah berkali-kali memberi nasehat dengan lisan dan berdo’a, tapi dia tetap susah sekali dalam menerima ajaran salaf, apalagi suami juga berjualan rokok. Saya selalu berusaha untuk menasehati tapi sulit, gimana Ustadz? Di satu sisi saya ingin hidup sesuai dengan sunnah, tapi suami sulit untuk diajak.
(08522983xxxx)

Pertama: Kami ikut bersyukur kepada Alloh, karena ibu dapat menerima ajaran salafush sholih, dan ini nikmat yang paling besar dari Alloh. Bagaimana tidak? Karena pemahaman salafush sholih didasari dengan ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan dipahami oleh para sahabat, mudah dipahami dan diamalkan, dan jiwa kita menjadi tenang.
Kedua: Ketahuilah bahwa hidup di dunia tidak lepas dari ujian dan cobaan. Ada kalanya seseorang diuji dengan isteri dan anaknya dan ada kalanya seorang wanita diuji dengan suaminya seperti yang dialami oleh penanya. Untuk menghibur diri, kami anjurkan ibu membaca ayat ini:

Dan Alloh membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Robbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zholim.” (QS. at-Tahrim [66]: 11)

Alhamdulillah suami ibu masih beragama Islam.
Ketiga: Ibu tak usah putus asa mendakwahi suami, karena boleh jadi sekarang belum menerima, besok baru mau menerima, karena mendakwahi berarti berbuat baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Rosululloh bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menunjukkan jalan yang baik, maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Mendakwahi suami hendaknya dengan lembut, tidak dengan cara yang kasar. Sebagai isteri, hendaklah ibu tetap memenuhi apa yang menjadi kewajiban, bahkan bantulah apa yang menjadi kebutuhan suami ibu. Bila perlu, nasehatilah suami pada saat dia sedang perlu dengan isteri, katakanlah: “Alangkah senangnya diriku sebagai isteri bila suamiku mengikuti pemahaman salaf” dan kata-kata rayuan lain yang menarik suami, karena Nabi pun juga bercanda dengan isterinya.
Keempat: Ibu harus memahami bahwa hidayah taufiq (menerima kebernaran) datangnya dari Alloh, tidak seorang pun yang mampu memilikinya, sedangkan kita hanya mendapatkan hak untuk menyampaikan, mendakwahi, dan menasehati, sampai kita dipanggil pulang ke rohmatulloh.

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)…. (QS. asy-Syuro [42]: 48)

Maksudnya, jika seorang rosul (utusan) tidak bisa memberi hidayah taufiq, apalagi umatnya.
Kelima: Ibu harus bersabar dan tetap istiqomah di atas manhaj salaf. Untuk memupuk istiqomah, bacalah kitab yang ditulis oleh ulama salaf, dengarkan kaset atau CD dakwah salaf, bila perlu diperdengarkan pula pada saat suami sedang beristirahat di rumah.
Keenam: Jangan lupa, setiap malam—terutama sepertiga malam yang terakhir—hendaknya bertahajjud, bila mampu sholat sebelas roka’at atau semampunya, menangislah bila perlu, memohon kepada Alloh agar suami segera mendapat hidayah, karena waktu itu adalah waktu mustajabah (saat terkabulnya do’a,—red.).

Gaji isteri diminta ibunya

Saya pegawai negeri, suami saya berusaha kecil-kecilan, penghasilan belum cukup untuk keluarga. Gaji saya pakai untuk membantu usaha suami, tapi ibu mau mengambil gaji saya padahal ia berkecukupan, apa gaji saya termasuk hak ibu yang berkecukupan?
(0812370xxxx)

Pertama: Ukhti hendaknya bersyukur kepada Alloh karena telah berkeluarga, mendapat rezeki, bisa membantu suami dan orang tua, serta suami pun sudah bekerja walaupun usahanya kecil-kecilan.

Kedua: Status gaji adalah milik ukhti, karena ukhti yang bekerja. Adapun bila ibu ingin mengambil gaji, tidak mengapa apabila dia meminta sekedarnya, karena ibu merupakan orang tua kita, sebelumnya dia telah berbuat baik kepada kita sebelum kita berbuat baik kepadanya. Jasa ibu dan bapak tidak bisa dilupakan. Jangan berkata kasar kepada kedua orang tua, sekalipun tindakan dan perkataannya menyakitkan hati, nasehati dia dengan baik pada saat tindakan sang ibu kurang berkenan. Memang sulit berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik, tetapi besar faedah dan keuntungannya, karena itu Nabi bersabda (yang artinya): “Iringilah perbuatan jelek itu dengan kebaikan, maka akan menghapus dosa, dan berakhlaqlah kepada manusia dengan akhlaq yang baik.”

Jika ibu meminta gaji semuanya, lebih baik ukhti berhenti dari pekerjaan menjadi pegawai, lebih baik membantu suami di rumah. Itu solusi yang terbaik, insya Alloh, karena ibu sudah cukup, sedangkan suami sudah bekerja.

Ketiga: Ukhti, untuk masa depan—jika berkenan hati, demi kebaikan dunia dan akhirat—apabila suami dirasa telah cukup usahanya untuk menafkahi keluarga, sebaiknya seorang wanita muslimah berhenti dari bekerja di luar, karena ada beberapa pertimbangan:

• Yang berkewajiban menafkahi isteri dan keluarga adalah suami, sebagaimana dijelaskan di dalam Surat ath-Tholaq [65]: 7.
• Islam menganjurkan wanita lebih banyak di rumah daripada keluar rumah, sebagaimana dijelaskan di dalam Surat al-Ahzab [33]: 33. Keberadaan wanita di rumah lebih menyenangkan suami, akan terpenuhi kebutuhan suami dan anak-anak, fitnahnya kecil sekali, lebih bersih dan indah badannya. Insya Alloh suami lebih menyukai karena melihat isterinya di rumah, kapanpun dia membutuhkan, sudah ada di sampingnya.

Jika kondisi ekonomi suami belum mapan, artinya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan sederhana mungkin belum tercukupi, maka upayakan ukhti ketika pergi kerja minta diantar oleh suami—bila memungkinkan. Jangan membonceng dengan lelaki yang bukan mahrom, hindari bersolek diri ketika keluar rumah, jangan memakai parfum, dan hendaknya menutup badan dengan pakaian yang longgar dan tebal, serta hindari banyak bergaul dengan pria. Sering-seringlah memohon kepada Alloh agar suami segera tercukupi kebutuhannya dan isteri bisa berhenti kerja. Akhirnya, semoga Alloh memberi taufiq dan hidayah kepada kita semua.

Sampai kapan suami harus bersabar?

Bagaimana menyikapi seorang isteri yang nyata-nyata membangkang atau menolak dalam hal dienul Islam, tapi isteri mengakui atau takut kepada Alloh, apakah kesabaran ada batasnya? Mohon nasehat Ustadz.
(08133674xxxx)

Pertama: Penanya hendaknya bersyukur, karena Alloh telah memberi hidayah berupa menyenangi dien yang mulia dan indah ini. Bacalah Surat al-Hujurot [49]: 7, agar anda bertambah senang.

Kedua: Suami harus menyadari bahwa hidup di dunia ini penuh dengan cobaan, dicoba dengan isteri yang suka membangkang sebagaimana dijelaskan di dalam Surat at-Taghobun [64]: 14. Akan tetapi, suami hendaknya gembira dengan ujian ini karena dengan ujian ini—jika bersabar—kita mendapat pahala, insya Alloh. Bukankah Nabi Nuh dan Luth ‘alaihimassalam diuji dengan isteri dan anaknya? Baca Surat at-Tahrim [66]: 10.

Ketiga: Nasehatilah isteri dengan baik, karena dien Islam adalah nasehat, sebagaimana Nabi bersabda (yang artinya): “Nasehatilah wanita itu dengan nasehat yang baik.” Nasehati dia dengan lembut, karena wanita lemah akalnya dan mudah putus asa. Dia dijadikan dari tulang rusuk yang paling bengkok, mudah patah, bila diperlakukan dengan keras dia akan gampang minta cerai, sebagaimana penjelasan hadits yang shohih. Jelaskan kebaikan Islam, jelaskan bahwa suami wajib menasehati isterinya sekaligus ini sebagai tanda kasih sayangnya. Jelaskan bahwa suami ingin hidup bahagia dengan isterinya di dunia dan di akhirat.

Keempat: Tanyailah dia: “Apa yang dimaksud takut kepada Alloh?” Jika jawabannya benar, tanyakan: “Mengapa tidak dilaksanakan?” Jika jawabannya salah, betulkan. Bacakan kepada isteri kitab karangan ahli ilmu, bahwa takut kepada Alloh bukan hanya perkataan semata, namun dengan mendekatkan diri kepada Alloh, melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Kelima: Jangan lupa berdo’a kepada Alloh, terutama pada sepertiga malam yang akhir. Berdo’alah sambil menangis memohon kepada Alloh agar sang isteri diberi petunjuk, dan bangunkan dia agar menjalankan pula sholat malam, barangkali dia mau sholat.
Dari Abu Huroiroh Rosululloh bersabda:
يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Robb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi setiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berkata: ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberinya, dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhori: 5846)

Di antara contoh do’anya:

“Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”(QS. al-Furqon [25]: 74)

Keenam: Benar ada batasnya, sampai kapan? Langkah awal, nasehati dia dengan kata-kata yang lembut yang menyadarkan diri. Jika tidak bisa, tinggalkan tidur bersama dia. Jika belum berhasil, cambuklah di bagian kakinya—jangan kepalanya—dengan cambukan yang tidak merusak badannya. Jika belum berhasil, datangkan dua hakim dari kedua orang tua untuk meminta pertimbangan. Jika mertua tidak mendukung, bahkan membela anaknya, Bismillah, tawakkal kepada Alloh ceraikanlah dia. Tentunya hal ini (cerai) jika suami sudah menimbang lebih jauh tentang maslahat dan mafsadatnya, dan jika sudah cerai segeralah menikah agar cepat hilang peristiwa yang lalu, tentuny bila mampu.

(…. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (durhaka)-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Alloh memberi taufiq kepada suami-isteri itu.

Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. an-Nisa’ [4]: 35)

Akhirnya, semoga Alloh memberi hidayah kepada kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: