al-Mawaddah

Majalah Keluarga Muslim ( Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rohmah )

Pernikahan Adalah Fithroh Bagi Manusia

Posted by al-Mawaddah pada 21 November, 2008

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas

Agama Islam adalah agama fithroh, dan manusia diciptakan Alloh sesuai dengan fithroh ini. Oleh karena itu, Alloh menyuruh manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fithroh agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan sehingga manusia tetap berjalan di atas fithrohnya.

Pernikahan adalah fithroh manusia, maka dari itu Islam menganjurkan untuk menikah karena nikah merupakan ghorizah insaniyyah (naluri kemanusiaan). Apabila ghorizah (naluri) ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah, yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan setan yang menjerumuskan manusia ke lembah hitam.

Firman Alloh :

“”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fithroh Alloh, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fithroh) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar-Rum [30]: 30)

A. Definisi Nikah  ( النِّكَاحُ)

An-Nikah menurut bahasa Arab berarti adh-dhomm (menghimpun). Kata ini dimutlakkan untuk akad atau persetubuhan.

Adapun menurut syari’at, Ibnu Qudamah berkata: “Nikah menurut syari’at adalah akad perkawinan. Ketika kata nikah diucapkan secara mutlak, maka kata itu bermakna demikian selagi tidak ada satu pun dalil yang memalingkan darinya.” (al-Mughni ma’a Syarhil Kabir 9/1130)

Al-Qodhi mengatakan: “Yang paling sesuai dengan prinsip kami bahwa pernikahan pada hakikatnya berkenaan dengan akad dan persetubuhan sekaligus. Hal ini berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci (oleh Alloh) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. an-Nisa’ [4]: 22).” (al-Mughni ma’a Syarhil Kabir 9/113. Lihat Isyrotun Nisa’ minal Alif ilal Ya hal. 12 dan al-Jami’ li Ahkamin Nisa’ 3/7)

B. Islam Menganjurkan Nikah

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.

Sahabat Anas bin Malik berkata: Telah bersabda Rosululloh :

مَن تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ اْلإِيْمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي.

“Barangsiapa menikah maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Alloh dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Thobroni dalam Mu’jamul Ausath: 7643, 8789. Syaikh al-Albani menghasankan hadits ini, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah: 625)

Dalam lafazh yang lain disebutkan:

مَنْ رَزَقَهُ اللَّهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ اللَّهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي.

“Barangsiapa yang dikaruniai oleh Alloh dengan wanita (istri) yang sholihah, maka sungguh Alloh telah membantunya untuk melaksanakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Alloh dalam menjaga separuhnya lagi.” (Hadits hasan li ghoirihi. Diriwayatkan oleh Thobroni dalam Mu’jamul Ausath: 976 dan al-Hakim dalam al-Mustadrok 2/161 dan dishohihkan olehnya, juga disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Shohih at-Targhib wat Tarhib 2/404 no. 1916)

C. Islam Tidak Menyukai Hidup Membujang

Rosululloh memerintahkan untuk menikah dan melarang keras orang yang tidak mau menikah. Sahabat Anas bin Malik berkata: “Rosululloh memerintahkan kami untuk menikah dan melarang dari membujang dengan larangan yang keras.” Beliau bersabda:

تَزَوَّجُوا الوْدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku di hadapan para nabi pada hari kiamat.”

(Hadits shohih li ghoirihi. Diriwayatkan oleh Ahmad 3/158, 245, Ibnu Hibban dalam Shohih-nya: 4017 –Ta’liqotul Hisan ‘ala Shohih Ibni Hibban– dan Mawariduzh Zhom’an: 1228, Thobroni dalam Mu’jamul Ausath: 5095, Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya: 490, Baihaqi 7/81-82, adh-Dhiya’ dalam al-Ahadits al-Mukhtaroh: 1888-1890), dari sahabat Anas bin Malik. Hadits ini ada syawahid (penguat)nya dari Sahabat Ma’qil bin Yasar , diriwayatkan oleh Abu Dawud: 2050, Nasa’i 6/65-66, Baihaqi 7/81, al-Hakim 2/162 dan dishohihkan olehnya. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh al-Albani, lihat Irwa’ul Gholil: 1784)

Pernah suatu ketika tiga orang sahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi tentang peribadahan beliau. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa sepanjang masa tanpa putus.” Sahabat yang lain berkata: “Adapun saya, maka saya akan sholat malam selama-lamanya.” Yang lain berkata: “Sungguh saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selama-lamanya … dst.” Ketika hal itu didengar oleh Nabi , beliau keluar seraya bersabda:

أَنَْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأَفْطِرُ وَأُصَلِّيْ وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ.

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Alloh, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Alloh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi, aku berpuasa dan aku berbuka, aku sholat dan aku tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Bukhori: 5063, Muslim: 1401, Ahmad 3/241, 259, 285, Nasa’i 6/60, dan Baihaqi 7/77 dari sahabat Anas bin Malik )

Dan sabda beliau :

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لمَ ْيَعْمَلْ بِسُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ، وَتَزَوَّجُوْا، فَإِنِّيِْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طُوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ.

“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah) maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).” (Hadits shohih li ghoirihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 1846 dari Aisyah. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah: 2383)

Juga sabda beliau :

تَزوَّجُوْا، فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرُهْبَانِيَّةِ النَّصَارَى.

“Menikahlah, karena sungguh aku akan membanggakan jumlah kalian kepada umat-umat lainnya pada hari kiamat. Dan janganlah kalian menyerupai para pendeta Nasrani.”

(Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Baihaqi 7/78 dari sahabat Abu Umamah. Hadits ini memiliki beberapa syawahid/penguat. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah: 1782)

Orang yang mempunyai akal dan bashiroh tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Sesungguhnya hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak memiliki makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab.

Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Diri-diri mereka selalu berada dalam pergolakan melawan fithrohnya. Kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus-menerus lambat laun akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.

Jadi orang yang enggan menikah, baik itu laki-laki atau wanita, mereka sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat biologis maupun spiritual. Bisa jadi mereka bergelimang dengan harta, namun mereka miskin dari karunia Alloh .

Islam menolak sistem kerahiban (kependetaan) karena sistem tersebut bertentangan dengan fithroh manusia. Bahkan, sikap itu berarti melawan sunnah dan kodrat Alloh  yang telah ditetapkan bagi makhluk-Nya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang yang jahil (bodoh). Karena seluruh rezeki telah diatur oleh Alloh Ta’ala sejak manusia berada di alam rahim.

Manusia tidak akan mampu menteorikan rezeki yang dikaruniakan Alloh , misalnya ia mengatakan: “Jika saya hidup sendiri gaji saya cukup, akan tetapi kalau nanti punya istri gaji saya tidak akan cukup!”

Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits Rosululloh. Alloh memerintahkan untuk menikah, dan seandainya mereka fakir niscaya Alloh  akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Alloh menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang menikah, dalam firman-Nya:

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. an-Nur [24]: 32)

Rosululloh menguatkan janji Alloh  tersebut melalui sabda beliau:

ثَلاَثُ حَقٍ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ: المُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَالمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ العَفَافَ.

Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Alloh: (1) orang yang berjihad di jalan Alloh, (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad 2/251, 437, Nasa’i 6/61, Tirmidzi: 1655, Ibnu Majah: 2518, Ibnul Jarud: 979, Ibnu Hibban: 4030 –at-Ta’liqotul Hisan: 4029–, dan al-Hakim 2/160-161, dari sahabat Abu Huroiroh. Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan.)Para salafush-sholih sangat menganjurkan untuk menikah dan mereka benci membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.

Ibnu Mas’ud pernah berkata: “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah. Aku ingin pada malam-malam yang tersisa bersama seorang istri yang tidak berpisah dariku.” (Lihat Mushonnaf Abdurrozzaq 6/170 no. 10382, Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 6/7 no. 16144, dan Majma’uz Zawa’id 4/251)

Dari Sa’id bin Jubair ia berkata: Ibnu Abbas bertanya kepadaku: “Sudahkah engkau menikah?” Aku menjawab: “Belum.” Beliau kembali berkata: “Nikahlah, karena sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang banyak istrinya.” (Sanadnya shohih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori: 5069 dan al-Hakim 2/160)

Ibrohim bin Maisaroh berkata: Thowus berkata kepadaku: “Engkau benar-benar menikah atau aku mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Umar kepada Abu Zawa’id: Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau kejahatan (banyaknya dosa).” (Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq 6/170 no. 10384, Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 6/6 no. 16142, Siyar A’lamin Nubala 5/48)

Thowus juga berkata: “Tidak sempurna ibadah seorang pemuda sampai ia menikah.” (Lihat Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 6/7 no. 16143 dan Siyar A’lamin Nubala 5/47)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: