al-Mawaddah

Majalah Keluarga Muslim ( Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rohmah )

Akhlaq Tercela dan Penanggulangannya

Posted by al-Mawaddah pada 21 Desember, 2008

Oleh: Ustadz Mubarak bin Mahfudh Bamu’allim

( al-Mawaddah Edisi 9 Tahun 1 )

Salah satu problem umat yang dihadapi kaum muslimin adalah keburukan akhlaq atau dekadensi moral yang menimpa berbagai kalangan. Akibatnya adalah terjadi kerusakan yang tidak sedikit di bumi Alloh ini; kerusakan dalam berperilaku terhadap Alloh, kedua orang tua, tetangga, sesama manusia dan terhadap lingkungan. Demikian pula keburukan berperilaku tampak dalam bermu’amalah, dalam menjalankan tugas, dalam mengemban dan menjalankan amanah, dalam berumah tangga, dalam bertetangga, dan seterusnya. Gaya hidup egoistik, ingin menang sendiri, merasa paling kuat, sikap kasar dalam bertindak dan bertutur kata, serta berbagai perangai buruk lainnya, telah mewarnai gaya hidup manusia (sebagian kaum muslimin) di era globalisasi ini.

Fenomena ini terus berlanjut tak terkendalikan, sehingga terasa seakan-akan kaum muslimin tidak memiliki pedoman hidup. Padahal al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh penuh dengan tuntunan kemanusiaan yang luhur. Demikian pula lembaran sejarah perjalanan ulama muslimin dan kaum muslimin di masa lalu penuh dengan contoh dan teladan yang patut dicatat dengan tinta emas.

Masalah akhlaq tercela dan dekadensi moral adalah masalah kita bersama. Masalah ini dapat diselesaikan dengan penerapan pola hidup yang qur’ani (sesuai tuntunan al-Qur’an) dan sunni (sesuai tuntunan sunnah Nabi secara benar dan menyeluruh. Alloh Ta’ala berfirman mengenai Kitab-Nya, al-Qur’an:

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Robbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rohmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]: 57)

Adapun mengenai Rosul-Nya, Alloh Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh. (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Pengertian Sû ul Khuluq (Akhlaq yang Buruk)
Kata sû’ (سُوْءٌ) secara bahasa bermakna qub hun (قُبْحٌ) artinya buruk atau jelek. Alloh Ta’ala berfirman:

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (adzab) yang lebih buruk…. (QS. ar-Rum [30]: 10)

Adapun kata al-khuluq (اَلْخُلُقُ) yang bentuk jamaknya al-akhlaq (اَلْأَخْلَاقُ) berarti tabiat atau perangai.

Dari pengertian secara bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa sû ul khuluq (akhlaq yang buruk) adalah tabiat atau perangai yang jelek lagi mungkar pada seseorang yang terwujud dengan mengekspresikan keburukan dan menahan diri dari perbuatan yang baik atau dengan menghiasi diri dengan berbagai sifat yang hina/rendah dan mengosongkannya dari berbagai sifat yang utama(1).

____________________________
(1)  Madarij as-Salikin : 2/ 294

Faktor-faktor Sû’ul Khuluq

Untuk mengetahui penyebab keburukan akhlaq ini, penulis mengajak para pembaca untuk menyimak secara saksama uraian al-’Allamah Ibnul Qoyyim. Beliau berkata: “Sumber munculnya semua akhlaq yang rendah dan tercela ada empat hal yang menjadi pilar dan penyangganya:

(1) al-Jahlu (kebodohan),

(2) azh-Zhulmu (kezholiman),

(3) asy-Syahwatu (syahwat/nafsu yang tak terkendali),

(4) al-Ghodhobu (kemarahan).”
Selanjutnya beliau menguraikan empat hal tersebut dengan mengatakan: “Bahwa al-Jahlu (kebodohan) mengakibatkan seseorang memperlihatkan sesuatu yang bagus dalam gambaran yang jelek, dan sesuatu yang jelek dalam gambaran yang bagus, menampakkan yang sempurna dalam gambaran yang kurang dan sesuatu yang kurang dalam gambaran yang sempurna. Azh-Zhulmu (kezholiman) membawa seseorang kepada penempatan sesuatu bukan pada tempatnya, sehingga dia murka pada sesuatu yang seharusnya dia ridhoi dan ridho pada sesuatu yang semestinya dia murkai, berbuat tindakan kejahilan pada sesuatu yang semestinya dia serius, berlaku pelit dan kikir pada situasi yang memerlukan pengorbanan harta, mundur pada situasi yang semestinya dia maju dan maju pada situasi yang semestinya dia mundur, bersikap lembut pada kondisi yang semestinya bersikap kasar dan bersikap kasar dalam situasi yang seharusnya dia bersikap lunak, bersikap tawadhu’ (rendah hati) pada situasi yang semestinya dia bersikap gagah berani dan bersikap menyombongkan diri pada kondisi yang seharusnya dia tawadhu’. Adapun asy-Syahwatu (syahwat/nafsu yang tak terkendali) membawa seseorang kepada kerakusan yang sangat, kikir, dan pelit, menerjang kehormatan diri, ketamakan, kehinaan, dan segala sifat yang rendah. Adapun al-Ghodhobu (kemarahan) mendorong seseorang kepada keangkuhan, kedengkian dan hasad, permusuhan, dan kedunguan.”

Kami katakan: Jika kita menelusuri ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh, akan kita jumpai larangan mendekati empat hal di atas.

1. Kejahilan dan orang-orang jahil
Alloh Ta’ala berfirman:

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. al-Furqon [25]: 63)(2)

2. Kezholiman
Alloh Ta’ala berfirman bahwa Dia tidak berbuat kezholiman:

Itulah ayat-ayat Alloh, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Alloh berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imron [3]: 108)

Alloh juga melarang perbuatan kezholiman terhadap harta dan darah sesama manusia (lihat QS. an-Nisa’ [4]: 29–30).

Nabi pun melarang perbuatan kezholiman secara umum. Jabir bin Abdulloh mengatakan bahwa Nabi bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah kamu dari berbuat kezholiman, karena sesungguhnya kezholiman itu kegelapan-kegelapan di hari kiamat.” (HR. Muslim)

_________________________________
(1)Lihat juga QS. al-A’rof [7]: 199 dan QS. Hud [11]: 46.

3. Mengikuti syahwat/hawa nafsu

Mengikuti syahwat dan hawa nafsu telah merusak perangai pelakunya. Oleh karena itu, Alloh melarangnya dalam banyak ayat al-Qur’an, juga Nabi dalam sejumlah hadits, di antaranya ialah firman Alloh Ta’ala:

Dan Alloh hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. an-Nisa’ [4]: 27)

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam [19]: 59)

…. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh…. (QS. Shod [38]: 26)

…. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun? Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim. (QS. al-Qoshosh [28]: 50)

Nabi bersabda:
اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
“Takutlah kamu dari sifat pelit, karena sesungguhnya sifat pelit itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, membawa mereka menumpahkan darah-darah mereka dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
لَوْ كَانَ لابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ َلابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya dia mengharapkan yang ketiganya, padahal tidaklah mengisi perut anak Adam kecuali debu/tanah.” (HR. Muslim)

4. Kemarahan
Al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh banyak menyebut pujian bagi orang yang menahan kemarahan dan mampu mengendalikan diri, sebaliknya mencela amarah yang tidak terkendali, karena ia salah satu penyebab timbulnya keburukan akhlaq. Alloh Ta’ala berfirman:

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (QS. asy-Syuro [42]: 37)

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imron [3]: 134)

Dan dari Abu Huroiroh berkata, Nabi bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhori-Muslim)

Dari Abu Huroiroh (berkata) bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi :
“Berilah aku wasiat.” Beliau berkata: “Janganlah kamu marah!” Orang itu mengulang-ulangi permintaan wasiatnya dan beliau tetap mengatakan: “Janganlah kamu marah!” (HR. Bukhori)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib , beliau berkata:
أَوَّلُ الْغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ.
“Permulaan kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya penyesalan.” (al-Adab asy-Syar’iyyah: 1/230)

Fenomena Sû ul Khuluq dan Pengobatannya

Jika kita menelusuri fenomena dan gejala perangai yang buruk maka akan kita jumpai banyak hal yang dikerjakan oleh manusia sebagai bentuk perangai yang buruk, di antaranya:
1. Sikap kasar dan kaku dalam ucapan, tindakan, dan perbuatan. Padahal dalam al-Qur’an Alloh Ta’ala memerintahkan untuk bertutur kata yang baik terhadap manusia, Alloh Ta’ala berfirman:

… dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia…. (QS. al-Baqoroh [2]: 83)
Demikian pula kepada Nabi yang diutus-Nya dengan membawa wahyu dan petunjuk, Alloh mengingatkan beliau dengan firman-Nya:

…. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…. (QS. Ali Imron [3]: 159)

2. Menyeramkan wajah sehingga tampak sangar dan mengerutkan dahi serta tidak pernah tersenyum kepada orang lain tanpa dosa dan kesalahan yang mereka perbuat. Perangai ini merupakan perpaduan antara keangkuhan dan watak yang keras. Sebab, peremehan terhadap manusia disebabkan oleh sifat ujub dan angkuh, sedangkan tidak senyum kepada teman dan saudara timbul karena watak yang keras dan tabiat yang kasar. Padahal Rosululloh mengajarkan agar kita berwajah ceria bila bertemu dengan saudara sesama muslim.

Dari Abu Dzar al-Ghifari ,dia berkata: Nabi berkata kepada saya:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.
“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan suatu perbuatan baik meskipun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)

3. Cepat marah. Ini adalah perangai yang tercela secara syari’at dan akal. Betapa banyak peristiwa yang tidak diinginkan terjadi karena sifat ini seperti; pembunuhan, perceraian, perselisihan, pertengkaran antara dua sahabat, dan beragam kerusakan lainnya sebagai akibatnya. Sifat ini bisa dihilangkan dengan melaksanakan tuntunan Nabi :

• Membaca ta’awwudz ketika marah. Nabi pernah menyaksikan dua orang yang saling mengata-ngatai, maka beliau bersabda:
إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ: أَعُوْذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Bahwasanya aku mengetahui suatu kalimat yang seandainya dia mengucapkannya niscaya hilang kemarahannya. Seandainya dia mengucapkan: ‘Aku berlindung kepada Alloh dari godaan setan yang terkutuk’, niscaya akan hilang kemarahannya.” (HR. Bukhori-Muslim)

• Mengingat dan merenungkan balasan yang dijanjikan bagi orang yang mampu menahan amarahnya. Nabi bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ اْلعِيْنِ مَا شَاءَ.

“Barang siapa yang menahan amarah padahal dia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Alloh akan memanggilnya di tengah keramaian manusia pada hari kiamat, hingga Dia memberinya pilihan atas bidadari-bidadari surga yang dikehendakinya.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Albani)

• Mengambil sikap diam ketika marah. Nabi bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.
“Jika salah seorang di antara kamu marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad dan lainnya, dishohihkan oleh al-Albani)

4. Menghadapi orang dengan berwajah dua. Terkadang ada orang yang menghadapi temannya dengan tersenyum, ramah dan baik, menampakkan cinta dan kesepakatannya kepadanya, tetapi di belakangnya dia mengata-ngatai dan menjelek-jelekkan temannya itu. Sifat ini merupakan salah satu sifat terjelek dan terendah. Pelakunya termasuk orang yang terjelek dan terendah.

Nabi bersabda:
تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هٰؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهٰؤُلَاءِ بِوَجْهٍ.
“Engkau akan mendapati di antara manusia yang paling jelek di hari kiamat di sisi Alloh adalah orang yang berwajah dua(3) , yang datang kepada yang ini dengan satu wajah dan kepada yang ini dengan wajah yang lain.” (HR. Bukhori: 5598)

Sifat ini telah dicela, bukan saja oleh orang yang beragama dan berakal, bahkan orang yang hidup di zaman jahiliah pun mencela dan mengingkarinya. Mutsaqqib al-Abdi berkata:
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ يَكْشُرُلِى # حِيْنَ يَلْقَانِى وَإِنْ غِبْتُ شَتَمَ
“Sesungguhnya sejelek-jelek manusia, orang yang tertawa ketika bertemu aku namun jika aku tiada dia mengata-ngataiku.”(4)

5. Hasad dan dengki; yaitu berangan-angan hilangnya suatu nikmat dari orang yang dia dengki, atau murka dan benci tatkala melihat kondisi orang yang dia dengki lebih baik (dibanding dirinya sendiri).(5)

Sifat ini adalah penyakit kronis dan racun yang mematikan, tidak ada yang selamat dari penyakit ini kecuali orang yang diselamatkan oleh Alloh Ta’ala Yang Mahabesar. Sifat ini merupakan salah satu sifat ahli kitab yang dicela oleh Alloh dalam firman-Nya:

Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. al-Baqoroh [2]: 109)

Pada ayat yang lain Alloh berfirman:

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Alloh telah berikan kepadanya?…. (QS. an-Nisa’ [4]: 54)

Oleh karena keburukan sifat ini, Nabi melarang dalam banyak hadits, di antaranya:
لَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَكُونُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا.
“Janganlah kamu saling murka, janganlah kamu saling dengki, dan janganlah kamu saling membelakangi, namun jadilah kamu hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Bukhori-Muslim)

___________________________________________________________________
(3) Yaitu para munafik, pengadu domba yang pandai bermain cantik dalam kemunafikan mereka. Wallohu A’lam.
(4) Sû ul Khuluq hlm. 25 dinukil dari Kitab ad-Diwan.
(5) Ibid hlm. 34

Penyakit hasud dan dengki hanya dapat disembuhkan dengan mengikuti tuntunan Alloh dan Rosul-Nya dalam menjauhinya dan kembali kepada Alloh dengan menyadari bahwasanya segala nikmat yang dianugerahkan kepada manusia adalah dari Alloh Ta’ala, Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعَ.

“Tiada yang dapat mencegah apa yang diberikan-Nya dan tiada yang dapat memberikan apa yang dicegah-Nya.”

Itulah sedikit dari banyak contoh perangai dan akhlaq yang buruk lagi jelek. Jika kita telusuri akan kita jumpai sejumlah contoh akhlaq buruk yang harus dijauhi. Salah satu upaya untuk menjauhinya adalah melatih diri dan membiasakannya dengan akhlaq yang mulia dan senantiasa berdo’a kepada Alloh agar dijauhkan dari sifat dan perangai yang buruk, misalnya dengan do’a ini:
اَللّٰهُمَّ اهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لَا يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.

“Ya Alloh berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang terbaik (karena), tiada yang menunjuki kepada akhlaq yang terbaik kecuali Engkau, dan palingkanlah aku dari akhlaq yang buruk (karena), tiada yang memalingkan dari akhlaq yang buruk kecuali Engkau.”(6)

Juga dengan do’a:
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأَخْلاَقِ وَاْلأَعْمَالِ وَاْلأَهْوَاءِ.

“Ya Alloh aku berlindung kepada-Mu dari berbagai akhlaq, amal perbuatan dan hawa nafsu yang buruk.”(7)

Wallohu Ta’ala A’lam.

Referensi:
• al-Qur’anul Karim dan Terjemahnya
• al-Kutub as-Sittah
• Sû’ul Khuluq Mazhôhiruhu wa Asbâbuhu wa ’Ilâjuhu karya Muhammad bin Ibrohim al-Hamad
• Mausu’ah an-Nadhrotun Na’îm
• dll.

___________________________________________________________________
(6) Do’a ini cuplikan dari salah satu do’a iftitah yang diajarkan oleh Nabi dalam hadits riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasa i, dan lainnya. (Sû ul Khuluq hlm. 92)
(7) HR. Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani (Shohih wa Dho’if Sunan at-Tirmidzi no. 3591).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: