al-Mawaddah

Majalah Keluarga Muslim ( Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rohmah )

Berobat Kepada Dokter Lain Jenis, Boleh?

Posted by al-Mawaddah pada 4 Februari, 2009

Diasuh Oleh: Ustadz Abu Bakar al-Atsari

SOAL:
Assalamu’alaikum. Ustadz, ana mau tanya. Di tempat ana jarang tukang gigi wanita. Sedangkan ana seorang akhwat (wanita). Ana ingin memasang gigi. Bolehkah ana memasang gigi kepada ahli gigi pria? Syukron.
(Khodijah, Lampung, +6285269xxxxx)

JAWAB:
Soal yang hampir sama pernah dilontarkan kepada Mufti ‘Am Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dengan redaksi sebagai berikut: “Apa pendapat Syaikh tentang dokter gigi wanita melayani pasien laki-laki di klinik dokter gigi? Apakah ini diperbolehkan? Untuk diketahui, di klinik dan daerah tersebut banyak juga dokter gigi laki-laki.

Jawab:

“Kami bersama pihak terkait yang bertanggung jawab telah banyak berusaha dan berupaya agar terapi dan pengobatan pasien laki-laki ditangani oleh dokter laki-laki dan pasien wanita ditangani oleh dokter wanita pula, baik sakit gigi maupun yang lainnya. Dan begitulah yang benar.

Karena wanita adalah aurat dan fitnah -kecuali yang dirohmati Alloh-. Yang wajib adalah para dokter wanita khusus untuk para pasien wanita dan para dokter laki-laki khusus untuk para pasien laki-laki. Kecuali dalam keadaan darurat. Tatkala ada sebuah penyakit yang menimpa seorang laki-laki sedangkan tidak ada dokter laki-laki yang mengobatinya, maka tidak mengapa berobat ke dokter perempuan.

Alloh Ta’ala berfirman:

Padahal sesungguhnya Alloh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu melakukannya. (QS. al-An’am [6]: 119).

Bila tidak demikian, maka yang wajib para dokter wanita untuk pasien wanita, sedangkan para dokter laki-laki untuk pasien laki-laki. Dan bagian para dokter wanita dengan batas tertentu, sebagaimana bagian para dokter laki-laki juga pada batas tertentu. Juga hendaknya dibangun rumah sakit khusus laki-laki juga rumah sakit khusus wanita. Sehingga semua bisa menghindari fitnah serta campur baur yang membahayakan. Ini adalah kewajiban bersama. (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Ibnu Baz Juz. 9 hlm. 337)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: