al-Mawaddah

Majalah Keluarga Muslim ( Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rohmah )

Menjadi Santri di Usia Tua

Posted by al-Mawaddah pada 18 Maret, 2009

Oleh : Abu & Ummu Hisyam al-Kadiri

Dan adapun terhadap nikmat-nikmat dari Robb-mu, maka ceritakanlah.
(QS. adh-Dhuha [93]: 11)

*******

Sebagai seorang hamba yang amat fakir dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya kami takut tertimpa riya’, ujub atau bangga diri. Akan tetapi, sebagai hamba yang senantiasa diberi curahan nikmat oleh Alloh , limpahan rezeki-Nya, petunjuk dan hidayah-Nya, pertolongan dan belas kasih-Nya; maka kami akan ceritakan salah satu nikmat tersebut.

Impian yang indah adalah sebuah kenikmatan, lebih-lebih jika impian itu menjadi kenyataan. Sekitar empat tahun silam kami bercita-cita untuk tholabul ilmi (menuntut ilmu agama) dengan lebih intensif, yaitu dengan ‘mondok’ di sebuah pesantren. Sebenarnya jauh sebelumnya keinginan itu sudah ada, sebab kami menyadari betapa bodohnya diri ini terhadap dienulloh (agama Alloh) yang agung ini.

Kami (ana dan juga istri) dilahirkan bukan dari lingkungan yang agamis apalagi salafi. Masa muda kami habis untuk mempelajari pelajaran yang sekarang kurang kami rasakan manfaatnya, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Namun alhamdulillah, segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, Alloh berkehendak untuk memberi hidayah kepada kami. Kami mengenal salafi ketika kami sudah memiliki dua anak. Kami ikuti kajian salaf dari masjid ke masjid dan membaca buku-buku bernuansa Islami. Betapa kami telah menemukan keagungan dan keindahan Islam yang sempurna ini, dan kami merasa semakin bodoh dan fakir dalam ilmu dien ini. Terbayang dalam pikiran seandainya masa muda bisa kembali, kan ku pelajari semua ilmu dien ini.

Tapi, tiada yang perlu disesali. Ilmu bukanlah hak kaum muda saja, kami terus berusaha tholabul ilmi semampunya sambil mengurus keluarga. Impian untuk bisa intensif belajar agama seperti ketika mempelajari pelajaran umum di bangku sekolah dulu tidak bisa terhapus dalam benak ini. Tapi apa hendak di kata, anak sudah empat, dengan bekerja pagi-sore saja penghasilan pas-pasan untuk biaya pendidikan anak-anak. Bagaimana lagi jika mondok???

Do’a. Ya, do’a. Itulah senjata paling handal seorang muslim. Kami meminta kepada Dzat yang Mahakaya dan Maha Berkehendak. Setelah itu alhamdulillah, Alloh ilhamkan kepada kami sebuah ide bagus untuk merealisasikan impian kami itu. Apa gerangan?

Syirkah (persekutuan/kerjasama antara pemodal dengan pengelola). Kami mengajak dua orang semanhaj yang bercita-cita sama untuk membangun sebuah bisnis atau syirkah, yang nantinya bila sudah dapat dipetik hasilnya akan kami gunakan untuk membiayai secara bergantian salah satu keluarga di antara kami untuk mondok sekeluarga dengan biaya sepenuhnya oleh perusahaan tersebut.

Kenapa kami memilih cara ini? Dengan syirkah kita akan lebih selamat dan hati-hati, tidak sembarangan dalam memakai uang karena bukan milik pribadi. Selain itu, memungkinkan bagi kita untuk saling bergantian dalam mengelola usaha maupun dalam tholabul ilmi nantinya. Di sisi lain, kita akan dapat lebih sabar dan ulet dalam menjalankan usaha terutama saat-saat krisis di awal-awal usaha. Kita tanggung bersama suka dan duka.

Tekad semakin bulat. Dengan modal yang amat kecil kami bertiga merakit bisnis. Mengingat kami masih awam dalam dunia usaha, maka kami beli buku-buku dan majalah-majalah bisnis untuk bekal awal. Selain itu, kami juga sering mendatangi pengusaha-pengusaha yang sukses untuk berkonsultasi.

Awalnya bisnis kami mengalami kebangkrutan, kemudian dengan pertolongan-Nya, Alloh ilhamkan kepada kami sebuah bisnis kecil tetapi berpotensi besar untuk berkembang dan keuntungannya cukup besar.

Bulan berganti bulan, alhamdulillah bisnis kami berkembang pelan tapi pasti. Menginjak tahun ketiga (2007), setelah dihitung-hitung, ternyata laba bulanan perusahaan sudah cukup untuk membiayai satu keluarga untuk tholabul ilmi walaupun dengan standar hidup sederhana. Kami bicarakan rencana kami untuk mondok dengan anak-anak, awalnya mereka ragu karena khawatir pendidikannya tidak bisa berlanjut karena Abahnya (Bapaknya) mondok, tidak bekerja. Kami yakinkan bahwa Alloh Mahakaya, mampu memberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Alhamdulillah, mereka bisa menerima dan mau bersiap-siap untuk hidup lebih sederhana, bahkan sempat menghadiahkan untuk kami buku kecil yang berjudul ‘Perjalanan Ulama dalam Menuntut Ilmu’ karya Abu Anas Majid al-Bankani, buku yang sangat berkesan bagi kami waktu itu dan semakin membuat bulat tekad kami untuk segera memulai rihlah (menempuh jalan) untuk tholabul ilmi.

Akhirnya kami pun berangkat sekeluarga, meninggalkan kampung halaman. Rumah idaman yang telah kami bangun untuk sementara kami tinggalkan, menuju pondok pesantren al-Furqon, Gresik. Kami mulai dengan mengikuti dauroh (Kajian Khusus) Bahasa Arab tahun 2007, padahal anak kami yang kedua telah mengikuti dauroh yang sama pada tahun 2006 dengan kelas/tingkatan yang sama pula.

Awalnya terasa agak aneh juga. Kami duduk sebangku dengan anak-anak yang usianya di bawah 20 tahunan, seusia dengan anak kami. Tapi masya Alloh, rasa nikmat mendapat ilmu dien tidak bisa kami lukiskan, bahkan membuat kami merasa benar-benar ‘seperti muda’. Kesulitan fisik yang ada, yaitu adaptasi dengan tempat tinggal yang baru, rumah yang lebih kecil, perabot yang lebih sederhana, pola hidup yang lebih sederhana dan kondisi air yang kurang bersahabat dengan kulit anak dan istri, seperti tidak terasa karena saking besarnya kenikmatan yang Alloh berikan itu.

Subhanalloh, sungguh kenikmatan menuntut ilmu agama di usia tua ini sulit kami gambarkan. Ibarat orang yang sudah lama menunggu datangnya kekasih, lalu tibalah saat perjumpaan. Hari-hari indah penuh makna kami jalani. Taman-taman bunga dari majelis ilmu kami singgahi.

Tambahnya ilmu pengetahuan dienulloh yang murni ini, kenikmatannya tiada tara, belum pernah kami merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya, tidak seperti makanan yang jika kita makan setiap hari akan bosan, tidak pula seperti baju baru yang jika kita pakai setiap hari akan lusuh. Sungguh, kami katakan, “Seseorang tidak akan dapat merasakan cita-rasa lezatnya agama yang suci ini dengan tanpa mengambilnya dari sumber-sumber aslinya yang berbahasa Arab”.

Kini, alhamdulillah anak dan istri juga ‘nyantri’ semua, tholabul ilmi syar’i. Dan kami ingin tetap dalam jalan tholabul ilmi hingga maut menjemput, insya Alloh. Dan insya Alloh tahun ajaran baru mendatang salah satu rekan syirkah kami sekeluarga akan menyusul kami, karena alhamdulillah usaha kami kini sudah cukup untuk membiayai dua keluarga. Dan semoga rekan kami yang ketiga juga bisa segera menyusul.

Segala puji bagi-Mu, ya… Alloh, atas segala nikmat-Mu yang tak kan mampu kami hitung. Semoga Alloh juga akan memberikan kesempatan kepada Anda, para pembaca al-Mawaddah, untuk dapat menuntut ilmu syar’i dengan washilah (perantara) bisnis syirkah Anda bersama rekan seiman. Amin.

5 Tanggapan to “Menjadi Santri di Usia Tua”

  1. bintu Riyanto said

    subhanalLah.. kisah yang sangat indah.. semoga semua dimudahkan untuk menuntut ilmu syar’i… ana ijin ngopy untuk disebarkan kepada kawan2 ana

    Amiin..
    Silahkan di copy saja dan antum sampaikan kepada saudara kita yang lain. Semoga bermanfaat.
    Barokallohu Fiikum.

  2. hamdani said

    Semoga Alloh memberikan hidayah kepada kami yang masih muda untuk bisa memiliki semangat menuntut ilmu syar’i dan istiqomah dalam mengamalkannya.. kisah yang sangat menarik..

    Amiin.
    Hadanallohu wa iyyakum (semoga Alloh memberi hidayah kepada kita dan kepadamu).
    Barokallohu Fiikum

  3. mursali massali said

    Subhanallah…..terima kasih kepada penulis artikel ini.
    Mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan saya (insya Allah empat tahun lagi pensiun sebagai PNS). Semoga tulisan ini menjadi inspirasi buat kami yang sudah uzur untuk tetap semangat menuntut ‘ilmu. Karena :
    1. Allah SWT Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan ;
    2. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setip muslimin/muslimat ;
    3. Tuntutlah ilmu walau hingga negeri Cina
    4. Tuntutlah ilmu dari masa buaian hingga ke liang kubur ;

    Robbi zidna ‘ilman nafi’an warzukna fahman waasyi’an. Amin

    Semoga kisah dalam rubrik asam garam dapat bermanfaat bagi kami dan Antum sekalian.
    Tidak ada kata menyerah dan berhenti untuk tetap menjaga kobaran semangat dalam menuntut ilmu syar’i.
    Barokallohu Fiikum.

  4. eldi said

    kisah ini menarik hati saya, mhn bantuan saudaraku,
    1. kalau memang kisah nyata artikel ini ditulis oleh siapa?
    2. apa jenis bisnis yg digeluti sehingga membuahkan hasil yg bagus dg system ini?
    3. terus alamat ponpes al furqon dimana? ada kontak personnya ndak?
    terima kasih

    Alhamdulillah, semoga bisa menjadikan pelajaran berharga bagi kami dan Anda sekalian.
    1. Insya Alloh, ini adalah kisah pengalaman yang nyata dari pembaca/ pelanggan majalah almawaddah. Afwan, kami lupa mencantumkan nama penulisnya.
    Artikel ini ditulis oleh : Abu & Ummu Hisyam al-Kadiri

    2. Beliau berbisnis minuman kesehatan.

    3. Alamat Ponpes ALFURQON : Desa Srowo-Sidayu-Gresik 61153 Jawa Timur. Telp 031-3949156

    Barokallohu Fiikum

  5. mursali massali said

    Alhamdulillah ini kedua kalinya ana membaca artikel ini, semoga tetap menyalakan “ghiroh”/semangat belajar kita semua. Syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: